Landscape Suicide(s)
watch until
August 25, 2020
|
read in
English
Bahasa
|
vist the

Dogmilk is proud to present a selection of ruminations in landscape filmmaking by artists Polly Stanton and Matthew Berka. The somewhat romanticised idea of the solitary artist in nature has been so prominent a figure of the cultural imagination that it has endured across numerous centuries. By contrast, and with its own sense of romance, the history of cinema tells a narrative overwhelmingly characterised by ideas of collectivity and collaboration. As filmmakers, the thing that makes Polly Stanton and Matthew Berka most similar is not simply the fascination with natural environments, but their uncompromising sense of autonomy; creating every aspect of their films independently, across concept, camera and sound. Landscape Suicide(s) contrasts a dynamic selection of resourcefully made audio/visual works, exploring how a range of aesthetic possibilities can arise from seemingly similar creative approaches.

Headphones are most definitely recommended for this viewing and listening experience.

Selected by Paddy Hay

Indonesian translation and subtitles by Afifah Tasya

Dogmilk dengan bangga mempersembahkan ruminansi dalam karya film lanskap Polly Stanton dan Matthew Berka. Romantisasi tentang seorang seniman soliter di alam telah menjadi figur prominen dalam kultur imajinasi yang begitu menonjol dan bertahan selama berabad-abad lamanya. Sebaliknya, namun masih dengan romantisasi yang sama, sejarah sinema kerap menggambarkan naratif yang dikarakterisasikan oleh unsur kolektif dan kolaboratif. Sebagai sineas, hal yang membuat Polly Stanton dan Matthew Berka sangat sepadan tidak hanya sesederhana ketertarikan mereka dengan lingkungan alam, namun, rasa otonomi yang dimiliki kedua begitu kuat; membuat setiap aspek dari film mereka independen, lintas konsep, kamera dan suara. Landscape Suicide(s) kontras dengan karya-karya audio/visual yang dinamis dan penuh dengan akal. Mengeksplorasi ragam estetika yang muncul dari pendekatan kreatif yang seiras dan serupa.

Disarankan menggunakan headphones untuk pengalaman menonton yang maksimal.

Penyunting Bahasa oleh Afifah Tasya

Hume's Disappointment

2016

Matthew Berka

The story of my father's disappearance at Mt. Disappointment fuses with a reimagining of Hume and Hovell’s expedition to 'first' encounter northern Victoria in 1824. The film forms a new fictional hauntology in which past, present and future collapse through various forms of re-photography and the re-alignment of ‘found’ fragments from the tails of gothic Australian cinema.

Kisah hilangnya ayahku di Gunung Disappointment menyatu dengan penataan ulang ekspedisi Hume dan Hovell dan pertemuan 'pertama' di utara Victoria pada tahun 1824. Film ini membentuk hauntologi fiksi di mana masa lalu, sekarang dan masa depan berbaur melalui berbagai bentuk fotografi dan penyelarasan fragmen yang 'ditemukan' dari kisahgothic sinema Australia.

11
mins
Support the Artist

H.M.V.S.

2017

Matthew Berka

At Half Moon Bay, situated on the south-eastern part of Port Phillip Bay a film crew is setting up to shoot a scene from the Australian drama ‘Holding the Man’. The scene overlooks the last colonial breastwork monitor battleship, the decommissioned HMVS Cerberus. In 1993 the Cerberus suffered a major structural collapse after rusting deck supports and stanchions gave way. Razor blades were used directly on the film negative, removing layers of emulsion and further eroding the Cerberus from material existence.

Di Half Moon Bay, berlokasi di bagian tenggara Port Phillip Bay, sebuah kru film sedang bersiap mengambil gambar untuk drama Australia berjudul 'Holding the Man' Adegan ini memandangi kapal perang kolonial HMVS Cerberus yang sudah dinonaktifkan. Pada tahun 1993, kapal Cerberus mengalami keruntuhan besar setelah tiang dan penyangga dek yang telah berkarat roboh. Pisau cukur merupakan alat yang digunakan langsung untuk klise film, mengebas lapisan-lapisan emulsi yang pada akhirnya mengikis Cerberus dari keberadaan material.

7
mins
Support the Artist

The Spectral Field

2017

Polly Stanton

Commissioned by The Cinema’s Project, The Spectral Field is a moving image and sound work that traces the delicate and hidden aspects of the ancient Mallee landscape. The work is set in the remote Murray Sunset National Park and is a speculative exploration of three ephemeral salt lakes and the surrounding infrastructure of an abandoned salt harvesting farm. Interrogating and destabilising notions of scale, The Spectral Field envisages macro and micro observations of site in response to the immensity of the Australian outback.  

Sebuah bentuk komisi untuk The Cinema's Project, The Spectral Field adalah karya dengan elemen gambar dan suara yang menelusuri aspek mendalam dari lanskap arkais Malle. Taman Nasional Murray Sunset yang terpencil menjadi latar belakang karya ini, merupakan sebuah eksplorasi spekulatif tentang eksistensi tiga danau garam serta infrasuktur yang mengitari pertanian garam yang terbengkalai. Melalui interograsi dan destibilisasi terhadap gagasan skala, The Spectral Field mengilustrasikan pengamatan makro dan mikro suatu area sebagai komentar terhadap luasnya skala pedalaman Australia.

24
mins
Support the Artist

After These Things

2019

Matthew Berka & Dominika Kierzuel

The brown-yellow water at the mouth of the thames river widens and splits off into the oceanic cavern of the Thames estuary. Two Tree Island, an artificial island at the fringes of this mouth, covered in barren scrub and marshes was reclaimed by the estuary in the 18th century. This collaborative effort from Dominika Kieruzel and Matthew Berka, shot through a series of long-takes, probes the dimensions of camera, landscape and the body through a series of instructional-improvisations that invert, subvert and merge cinematic relationships. The camera is a no longer a window or mirror but a portal; connecting an island to the landlocked promised lands of Jerusalem, a memorial for Czech Holocaust victims, the dead as living, the living as dead. A repetitive phrase taken from Gerald Murnane's Inland (1988) claims that every place is always more than one place.

Air kuning kecoklatan di muara sungai thames melebar dan membelah hingga membentuk gua laut di muara Thames. Two Tree Island, pulau buatan di batasan tepi, ditutupi oleh semak belukar dan rawa yang tandus, direklamasi oleh muara pada abad ke-18. Kolaborasi Dominika Kieruzel dan Matthew Berka ini direkam melalui serangkaian long-take, menggali dimensi kamera, lanskap dan tubuh melalui rangkaian improvisasi-instruksional yang membolak balik dan menggabungkan relasi sinematik. Kamera tak lagi sekedar jendela ataupun cermin, namun sebuah portal; menghubungkan sebuah pulau ke tanah terjanjikan yang dikurung oleh daratan, yakni Yerusalem. Sebuah memorial untuk korban bencana Ceko; yang mati sebagai yang hidup, yang hidup sebagai yang mati. Sebuah frasa berulang diambil dari Inland (1988) di Gerald Murnane, yang mengatakan bahwa setiap tempat selalu lebih dari hanya satu tempat.

16
mins
Support the Artist

Undercurrents

2015

Polly Stanton

Undercurrents is a moving image and sound work that traces the path of water as it travels through the distinct sites of the Kiewa Hydroelectric Scheme. The work is an audio-visual mapping that documents changes of place and time over a 12 hour day – from the first moments of the dawn ice-melt, to the last stages of dusk as the current is halted by the dark water of Junction Dam. Filmed over two-week period in the Victorian Alps, Undercurrents stages a series of sensory moments in the creation and production of water as it flows through the remote country of the Alps. Set in three main locations within the Alpine National Park, the work charts the movement of water as it cuts through thick tundra, deep river valleys and sites of industry.  

Undercurrents adalah karya gambar dan suara yang menelusuri aliran air yang mengalir melalui situs di Skema Kiewa Hydroelectric. Karya ini merupakan pemetaan audio-visual yang mengabadikan peralihan waktu dan tempat selama lebih dari 12 jam sehari - dimulai dari pencairan es di kala fajar, hingga akhir senja ketika arus terhenti oleh air hitam dari Junction Dam. Difilmkan selama kurun waktu dua minggu di Pegunungan Alpen Victoria, Undercurrents mempertunjukkan serangkaian momen sensorik pada pembentukan air yang mengalir menelusuri daerah terpencil Alpen. Berlokasi di tiga tempat berbeda di dalam Taman Nasional Alpen, karya ini memvisualisasikan gerakan air yang melintasi tundra, lembah sungai yang dalam dan situs-situs industri.

30
mins
Support the Artist

Distant Ways

2017

Matthew Berka

An array of found footage from the Bogong Centre for Sound Culture’s audiovisual archive replay scenes of Bogong’s recent but seemingly distant past. Outside of the frame there is a world unrecorded and excluded from view. An archive reassembled for a future age.

Deretan rekaman footage dari arsip audiovisual Bogong Centre for Sound Culture memutar ulang serangkaian kejadian dari Bogong yang terasa nyata namun nampak silam. Diluar dari batasan bingkai kamera, terdapat dunia yang tidak terekam dan lekang dari pandangan. Distant Wayas merupakan sebuah arsip yang disusun kembali untuk masa depan.

12
mins
Support the Artist

We acknowledge the Traditional Custodians of the land on which we work, create and live, and we recognise that Sovereignty has never been ceded. We pay our respects to Elders past, present and emerging. It always was and always will be, Aboriginal land.